Wednesday, August 31, 2011

Spiritualitas Timur III


Dalam sebuah kebijaksanaan cina, harapan dan ketakutan adalah hal yang sama. Keduanya adalah momok, keduanya sama-sama memberatkan. Harapan dan ketakutan sama-sama keluar dari diri kita sendiri dan yang menjadikan harapan dan ketakutan itu menjadi sangat berat ataupun ringan adalah kita juga. Saya punya harapan untuk berhenti merokok sama saja ingin mengatakan saya takut mati muda. Saya punya harapan untuk lulus sekolah sama saja dengan mengatakan saya takut tinggal kelas. Pernyataan harapan dan ketakutan yang demikian hanya keluar dari diri seseorang yang sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Harapan dan ketakutan dengan demikian hanya akan menjadi suatu lingkaran yang tidak akan pernah selesai. Lao Tzu, sang guru kebijaksanaan, mengatakan janganlah melihat diri sendiri. Lihatlah dunia, lihatlah sesama kita dan segala yang bagus di dunia ini dan kita bisa melakukan apa pada mereka. Kita berharap dengan tidak mementingkan diri kita sendiri. Kita berharap untuk suatu dunia yang harmonis sehingga kita tertantang untuk selalu berbuat baik, untuk semua orang. Ketika kita mulai melihat dunia sekeliling kita, harapan akan terus muncul dan ketakutan akan musnah. Kiamat datang? Siapa takut…..tema ini pada awalnya mengherankan buat saya dan membuat saya bertanya-tanya, Mengapa kita harus takut dengan kiamat? Kiamat datang, kita semua mau tidak mau harus menerimanya. Tidak ada toleransi, tidak ada pengecualian. Semuanya habis, hidupku dan hidup kita akan habis dan kita terpaksa menyerah. Kiamat, kita percaya, akan terjadi. Maka, tidak perlu takut dan harus kita tatap dengan optimisme karena kita akan mendapatkan hidup baru.

Bagi kita orang katolik, kiamat sering disebut dengan saat parousia. Yaitu saat kedatangan Kristus kembali dalam kemuliaanNya untuk mengadili dunia. Hari kiamat akan menjadi hari Tuhan dan pada waktu itu Kristus akan tampak untuk kedua kalinya. Yesus sendiri mengatakan bahwa kita harus berjaga-jaga dan menunggu dengan sabar dalam menantikan datangnya hari tersebut. Namun kapankah datangnya kiamat tersebut. Siapakah yang tahu, tidak ada dari kita pun yang tahu akan hari kiamat. Hanya Allah Bapa yang mengetahuinya. Yesus pun tidak mengetahuinya kapan datangnya kiamat tersebut.

Namun, ada berbagai dugaan bahwa berbagai masalah dan bencana yang terjadi sekarang ini merupakan sebuah petanda kiamat. Benarkah itu? 2006 lalu kita mengalami gempa dashyat dan kini ada bencana merapi yang telah membunuh beribu-ribu harapan orang. Rumah, kebun, ternak, suami atau istri, anak-anak hangus karena terkena awan panas. Inikah kiamat? Bagi saya ini bukan kiamat karena dengan situasi seperti ini kita diajak untuk bergabung dengan sesama kita, bahu membahu, membangun dan saling menginspirasikan harapan-harapan baru untuk semakin yakin hidup bersama Allah. Bencana ini entah dikatakan kiamat atau bukan kiamat hendaknya membawa kita untuk bergerak dan melangkah, tidak diam saja karena takut. Bergerak bersama Allah muncul suatu solidaritas bersama yang menderita. Rm. Tom Jacobs pernah menyatakan bahwa kiamat adalah perkara untuk bersatu dengan Allah. Kiamat bukan berarti kehancuran yang membuat kita takut melainkan kebangkitan harapan dan kasih. Kiamat bukan bencana ini atau itu, melainkan habis semuanya dan tak seorangpun dapat menghindari bahwa hidupnya habis.

Kiamat kita sekarang ini bagi saya adalah menghindarnya kita dari solidaritas terhadap orang yang menderita. Habis rasa untuk bersolidaritas dengan sesama. Kristus telah datang ke dunia sebagai suatu bentuk solidaritas Allah terhadap dosa-dosa manusia. Maka, selayaknyalah kita juga berkerja bersama dalam solidaritas tersebut. Beberapa hari lalu saya pergi ke daerah di jalan solo dan pulangnya yaitu sekitar jam 8 malam, parkiran XXI jalan solo masih tetap padat. Artinya saya menyimpulkan bahwa banyak orang menonton bioskop dalam situasi seperti ini. Kemudian saya berpikir, apa yang dipikirkan mereka ketika ada bencana seperti ini di mana mereka masih memikirkan diri mereka sendiri. Yang kuat seharusnya menolong yang lemah dan menderita, itulah bentuk solidaritas. Yang kuat tidaklah menikmati segalanya demi diri sendiri. Bagi saya, inilah kiamat. Kiamat berarti matinya solidaritas kita, habisnya rasa kepedulian kita. Kiamat bukan meletusnya gunung merapi, melainkan makin banyak orang mengurus dirinya sendiri. Padatnya XXI hanyalah satu contoh dan saya pikir masih ada banyak contoh-contoh yang lain.

Yesus berkata, “waspadalah supaya kamu jangan disesatkan”. Percayalah pada Allah, percayalah pada imanmu karena jika “kamu tetap bertahan dalam imanmu, kamu akan memperoleh hidupmu”. Bangunlah solidaritas dengan sesama, bangunkanlah harapan-harapan orang-orang yang lemah dan menderita tersebut dengan uluran tangan kita. Inilah langkah atau gerak kita menghadapi kiamat, untuk hidup bersama Allah. Menghadapi kiamat kita harus penuh harapan, bukan dengan ketakutan.

Dalam sebuah kebijaksanaan cina, harapan dan ketakutan adalah hal yang sama. Keduanya adalah momok, keduanya sama-sama memberatkan. Harapan dan ketakutan sama-sama keluar dari diri kita sendiri dan yang menjadikan harapan dan ketakutan itu menjadi sangat berat ataupun ringan adalah kita juga. Saya punya harapan untuk berhenti merokok sama saja ingin mengatakan saya takut mati muda. Saya punya harapan untuk lulus sekolah sama saja dengan mengatakan saya takut tinggal kelas. Pernyataan harapan dan ketakutan yang demikian hanya keluar dari diri seseorang yang sangat egois, hanya memikirkan diri sendiri. Harapan dan ketakutan dengan demikian hanya akan menjadi suatu lingkaran yang tidak akan pernah selesai. Lao Tzu, sang guru kebijaksanaan, mengatakan janganlah melihat diri sendiri. Lihatlah dunia, lihatlah sesama kita dan segala yang bagus di dunia ini dan kita bisa melakukan apa pada mereka. Kita berharap dengan tidak mementingkan diri kita sendiri. Kita berharap untuk suatu dunia yang harmonis sehingga kita tertantang untuk selalu berbuat baik, untuk semua orang. Ketika kita mulai melihat dunia sekeliling kita, harapan akan terus muncul dan ketakutan akan musnah.
Harapan akan menjadi kekuatan jika kita berani melihat dunia, jika kita memiliki iman untuk berbuat. Kiamat adalah saat kita berharap, bukan untuk ditakuti.

Bangunlah solidaritas untuk sesama kita, dan tinggalkan keegoisan kita. Kiamat bukan saat memelihara diri sendiri melainkan melihat dunia dan semua yang bagus yang terjadi dan bergabung pada yang lain dan yang baru itu. Inilah tanggapan kita atas peristiwa yang menghabiskan hidupku dan hidup kita sebagai suatu bentuk pasrah. Kita punya iman, maka kita mesti berbuat.

Spiritualitas Timur II


Ketika membuat permenungan ini, saya teingat akan seorang teman yang menyimbolkan dirinya sebagai pohon. Aku adalah pohon yang memberikan kesegaran dalam hal udara segar dan kenyamanan dari orang2 yang mau berteduh dan relaksasi dengan pohon tersebut. Sepintas juga saya teringat akan pohon kehidupan, atau yang disebut dengan pohon kalpataru atau pohon kehidupan. Di Prambanan, relief pohon Kalpataru digambarkan tengah mengapit singa. Keberadaan pohon ini membuat para ahli menganggap bahwa masyarakat abad ke-9 memiliki kearifan dalam mengelola lingkungannya. Pohon KALPATARU menggambarkan suatu tatanan lingkungan yang serasi, selaras dan seimbang antara hutan, tanah, air, udara, dan makhluk hidup atau hidup dengan harmonis.

Di sini saya ingin bicara mengenai harmoni dari lambang yin yang. Secara literer yin, memiliki arti sisi gelap dan sisi terang sebuah bukit. Bukit yang disinari matahari pada pagi dan siang hari akan memunculkan sisi terang dan gelap, sebuah polaritas. Yin dan yang adalah dua prinsip kehidupan yang saling melengkapi, saling tergantung, saling mempengaruhi, dan saling memberikan keharmonisan dalam setiap ruang hidup yang selalu berlawanan. Yin dan yang selalu diasosiasikan dengan prinsip feminim dan maskulin, lemah dan kuat, gelap dan terang, jatuh dan bangun, bumi dan langit, dan semacamnya.

Prinsip Yin-Yang juga merupakan suatu seni kehidupan. Seni ini terletak pada usaha menjaga keseimbangan yang satu dengan yang lain yang secara alami saling berlawanan. Alan Watts, yang menulis Tao: The Watercourse Way, buku yang saya baca sewaktu liburan kemarin, memahami prinsip ini sebagai suatu negasi dan bukan suatu kontradiksi atau konflik. Prinsip ini pada dasarnya selalu menyangkal yang lain dan tidak memerangi. Pokok relasi antara yin dan yang disebut sebagai hsiang sheng, suatu pola saling mengembangkan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Kedua hal ini saling mengisi. Di saat kita kekurangan unsur positif, unsur negatif dari Yin akan mengisi kekosongan. Begitu pula sebaliknya. Sebab segala sesuatu yang terlalu berlebihan tidak baik. Jadi harus diseimbangkan.

Dalam Injil, kita tadi mendengar mengenai penghakiman terakhir yang berujung pada hidup kekal. Dalam bacaan tersebut juga ada polaritas yaitu mengenai percaya dan tidak percaya, terang dan gelap, keselamatan dan kematian, dan hidup kekal dan hidup temporal. Secara sederhana bisa disimpulkan bahwa yang percaya pada Allah akan mendapatkan hidup kekal.

Namun, dengan berdasar pada yin yang hidup itu tidak semudah seperti hitam atau putih. Kadang hidup kita berada dalam hitam dan kadang putih. Yang hitam dan yang putih ini bagi yin yang bukan saling bermusuhan atau saling perang, melainkan saling menyangkal demi memperbaiki diri, sesuai dengan prinsip hsiang sheng, satu dan yang lain saling mengembangkan bukan saling meniadakan. Kita tidak bisa menolak yang lain atau yang berbeda dari kita.

Hidup dalam harmony adalah hidup dalam keseimbangan yin yang. Harmoni bukan suatu struktur, melainkan suatu visi dan tujuan yang dijalankan dalam praxis hidup. Dengan menyadari adanya perbedan antara yang gelap dan terang kita diajak untuk semakin menyadari dengan rendah hati bahwa kita tidak bisa selamanya berada di atas, berada superior dari yang lainnya, selalu menjadi yang terbaik. Harmoni mengajak kita untuk berani melakukan hal-hal kecil dan kotor. Dalam kisah mengenai pohon tadi, pohon tersebut kadang dipakai untuk berteduh dari terik matahari atau dipakai sebagai background berfoto namun kadang ada yang melukai dengan memberi paku agar bisa mengantungkan sesuatu atau kadang harus dikecingi. Hidup dalam harmoni adalah berani menerima perbedaan, berani menerima yang berbeda dari kita, dan juga berani menerima kritik. Semuanya berjalan dalam proses yang saling mengembangkan. Tentunya demi keselamatan hidup kita, yaitu perjalanan menuju hidup yang kekal. Percaya bukan berarti selalu berada dalam terang, melainkan berani masuk dan diuji dalam gelap dan terang, dalam suka dan duka, dalam desolasi dan konsolasi.

Prinsip keseimbangan ini bukan hanya berarti bagaimana hidup kita, namun cara kita memandang hidup ini. Dengan kita memandang hidup ini dari berbagai aspek yang ada, maka kita akan bisa menikmati hidup dan mengambil pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Makna dari simbol tersebut sangatlah mendalam jika kita dapat memahaminya.

Spiritualitas Timur I



Dalam perumpamaan, gadis-gadis itu dikategorikan dalam yang bijak dan yang bodoh. Banyak tafsir mengatakan bahwa kesepuluh gadis itu merepresentasikan dunia kita ini, ada orang bodoh dan ada orang yang bijak. Dan orang yang bijak dikatakan sebagai orang yang berjaga dan bersiap menyambut kedatangan Kristus. Jika dunia memiliki dua kategori ini, kita akan berada di mana? Kita sebagai orang bodoh atau sebagai orang bijak.

Dalam permenungan, saya tidak ambil pusing dengan kategori manusia yang bijak dan bodoh karena buat saya perumpamaan ini cukup aneh. Saya pribadi, yang tertarik dengan kebijaksanaan dari timur, melihat bahwa kebijaksanaan itu bukan perkara kita mempersiapkan atau berjaga-jaga. Kebijaksanaan itu berarti kita bertindak dengan membiarkan sesuatu berjalan dengan sendirinya. Biarkan sesuatu itu berjalan sesuai dengan (dlm bhs lao tzu) tao-nya. Yaitu dasar dari segala sesuatu, yang tak terkenali, tak terjamah, tak terdeskripsikan. Sesuatu yang ada namun tidak bisa disebut. Dalam tao te cing, persiapan itu akan membuat kita tidak sempurna atau tidak sampai pada kebijaksanaan. Kita diajak untuk masuk dalam kealamian dan kesederhanaan. Dikatakan oleh lao tzu, “ketika kita menggengam sesuatu, kita akan kehilangan. Ketika kita memaksa suatu proyek akan selesai, kita menghancurkan apa yang hampir matang.” Bertindak tanpa rencana atau memimpin tanpa mencoba mengontrol merupakan keutamaan tertinggi. Kebijaksanaan muncul ketika kita tidak memiliki apa-apa, tidak ada sesuatu yang dipegang, dicapai, dan dideskripsikan. Kita kembali pada tao, dasar dari segala sesuatu yang tidak terlihat.

Jalan Tao ini memang bisa dikatakan membingungkan. Seorang ahli taoisme mengatakan jalan tao ini dikatakan sebagai jalan yang negatif. Untuk sampai pada kesempurnaan, kita harus bersikap negatif, yaitu lemah, mengalah, dan menerima. Bukan mempersiapkan banyak hal, bahkan harus juga meninggalkan sesamanya, apa lagi yang bodoh dan tersingkir. Namun jalan ini merupakan jalan yang membuat orang aktif dan kreatif terus menerus, karena selalu mengarah untuk sampai pada tao, sesuatu yang tidak ada ujungnya itu, yang akan membuat seseorang makin utuh dan sempurna.

Kembali kepada injil, kebijaksanaan itu tidaklah mengarah pada kepentingan diri sendiri, menjadi egois, meninggalkan sesama kita. Kebijaksanaan terletak ketika menjadi lemah, menerima, dan mengalah. Membantu sesama kita yang bodoh dan yang bijak, termasuk orang yang sibuk dengan dirinya.

Akhirnya, bukannya ingin lepas dari konteks injil, dalam permenungan saya “cukuplah sudah dengan memikirkan sesuatu untuk berjaga-jaga, selesailah sudah memikirkan diri sendiri. Saatnya untuk bertindak demi sesama, demi dunia tanpa kenal lelah, tanpa mengharap balasan. Inilah kebijaksanaan.

Monday, November 23, 2009

MEMULAI HIDUP DARI ANGKA NOL ???


Pernakah memikirkan bagaimana kita memiliki agama, beriman, dan kemudian harus percaya kepada Allah karena katanya Allah memberikan hidup (keselamatan) dan kita harus, mau tidak mau, menghormatinya dan beribadah kepada-Nya? Allah adalah yang mahakuasa dan mahabesar dan kita manusia tidak mampu mengatasinya sehingga kita sendiri harus (terpaksa) percaya pada Dia. Jika kita mau selamat, kita harus tunduk pada Dia.


Pernyataan ini adalah keliru bagi orang katolik. Iman kristiani kita tidak semerta-merta percaya pada Allah yang kaku. Memang Allah mahabesar dan mahakuasa namun Ia tidaklah kaku dan kita tidak bisa berbuat sesuatu yang seenaknya dan perbuatan kita harus seturut kehendak-Nya. Allah adalah pribadi yang terbuka dan rahim sehingga ia menerima siapapun dan apapun manusia sehingga kita sendiri akan merasakan bagaimana uluran tangan Allah membuat kita lega dan akhirnya bersedia memberikan pengalaman ini kepada orang lain, yaitu dengan memberikan berbagai tindakan kasih kepada sesama. Iman akan Allah hadir dalam pengalaman personal kita.


Dalam paper ini, kami ingin mengungkapkan bagaimana iman merangkul kehidupan, belajar beriman dengan berani lewat pengalaman, yaitu berinteraksi dengan Allah sendiri (wahyu) yang memberikan pengalaman. Kami juga akan membahasakan bagaimana iman bisa sampai di zaman sekarang ini dan bagaimana bisa diwujudkan dalam pergaulan hidup sehari-hari, terutama bagi kaum muda yang sering terpeleset paham dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan. Di akhir kami akan memberikan epilog mengenai pengalaman iman seorang anak muda yang pernah mengalami putus asa.

Berbahasa Iman dalam Konteks
Ketika kita berbicara mengenai pokok perhatian dalam membina iman, pertama-pertama yang harus diperhatikan adalah konteks manusia yang sedang kita hadapi, dengan segala macam pergulatannya. Sebagaimana ketika membicarakan konteks iman di kalangan mahasiswa teknik. Di sana kita perlu mencoba membuat semacam pre-kesimpulan/anggapan dasar tentang pergulatan mahasiswa teknik. Misalnya kami beranggapan bahwa mahasiswa teknik dalam menghayati iman nya sangat boleh jadi mengalami kebingungan. Kebingungan mengenai apa sih iman itu? Apakah saya harus beriman? Beriman kepada siapa? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini boleh jadi membuat mereka terus bergulat dan mengalami apa itu iman. Apakah iman itu sama dengan agama? Mungkin saja bagi mereka. Dalam situasi di mana orang mangalami tantangan dalam iman, mengalami kegagalan, keputus-asaan, kekecewaaan, stress, fatalitas dan lain sebagainya. Iman menjadi sangat dipertanyakan.


Pertanyaan lain yang muncul adalah apakah iman berarti hanya menuntut Allah yang bertindak? Apakah Allah menjadi tempat manusia meletakkan beban dan melemparkan segala persoalan hidup? Bukan! Allah tidak berarti demikian. Kalau kita menganggap Allah seperti ini berarti kita memperalat Allah. Allah seolah-olah kita jadikan sarana pemuasan diri atau pemenuhan hasrat kita. Bukankah ini berati kita egois dan sombong? Memaksa Allah untuk mengikuti keinginan kita sementara kita acuh-tak acuh dan masa bodoh terhadapnya? Kalau seperti ini maka iman tidak mendapat artinya yang benar. Sia-sialah iman kita.


Kemudian dari beberapa pengandaian ini kami akan mencoba untuk merumuskan mana pokok perhatian dalam membangun iman. Bagi kami pengalaman pergulatan dengan berbagai macam kebingungan dan pertanyaan-pertanyaan, sudah menjadi modal besar untuk berteologi. Pengalaman pergulatan merupakan acuan pertama ketika merumuskan pokok perhatian iman yang harus dibina. Dari pengalaman tersebut manusa mengarah pada kesadaran akan adanya yang transenden. Pengalaman yang ada kemudian direfleksikan secara lebih mendalam, akan kita temukan betapa pengalaman yang biasa tadi akan sangat bermakna. Kebermaknaan dari sebuah pengalaman karena adanya kontemplasi maupun refleksi akan mengantar orang pada sebuah keyakinan dan sebuah komitmen. Maka, pokok perhatian dalam membina iman pertama-tama adalah bagaimana mendeskripsikan apa pergulatan yang sedang dihadapi, pengalaman apa saja yang sering membuat mereka mengalami kebingungan dan bertanya akan sesuatu yang banyak orang yakin dan percaya bahwa itu ada. Maka dalam membina iman harus ada pengalaman iman manusia yang asli, yakni dalam liku-liku sejarah orang mengenal Allah bertindak, supaya orang dapat hidup sebagai rekan sekerja Allah. Iman adalah sikap pribadi dan peristiwa dalam jaringan sejarah, waktu tindakan Allah mendapat tanggapan manusia. Pengalaman akan membuktikan bagaimana iman yang menyejarah menjadi begitu kuat dalam mengatasi keraguan menanggapi zaman. Lewat pengalaman, iman adalah peristiwa hidup manusia dan peristiwa kehadiran Allah; pengalaman hidup iman ini digambarkan dalam beberapa cirri khas yaitu iman adalah otonom, menyelamatkan, suci, mutlak, dan kristiani.


Kemudian, lewat pengalaman itulah kita masuk dalam perkara iman atau mengenai iman seperti yang ada dalam Dei Verbum art. 5, “…manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan kepatuhan akal budi serta kehendak … dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya.” Kebenaran yang kita terima melulu dari Allah karena rahmat dan juga peranan Roh Kudus. Jadi dalam membina iman, manusia selalu terarah pada Allah karena juga manusia berasal dari Allah dan tidak bisa terpisah dari-Nya. Kita harus sampai pada sebuah kesetujuan atau penyerahan diri pribadi yang membuat pembinaan iman berdasar pengalaman itu menjadi benar-benar membangun dan mengembangkan.


Iman yang sesungguhnya berasal dari Allah dan sekaligus dari manusia. Dalam arti Allah yang menggerakkan manusia dengan rahmat-Nya sehinga mendorong manusia untuk melibatkan seluruh tanggung jawabnya secara merdeka pada proyek Allah. Jadi iman mengandaikan dua unsur yang aktif sekaligus yakni tindakan Allah yang aktif dan tindakan manusia yang juga aktif menanggapi tindakan rahmat Allah. Iman bagaikan Allah yang bermain kartu dengan manusia, lempar-melempar, uji-menguji. Maka dalam konteks pembinaan iman bagi orang zaman sekarang ini haruslah kontekstual. Status pengertian dasariah mengenai iman haruslah memberi arah bagi pembinaan yang mencerahkan dan menyegarkan.


Peranan Kristus yang wafat dan bangkit, yang memberikan teladan kesungguhan-Nya dalam mengabdi Bapa merupakan sesuatu yang khas dalam hidup sebagai seorang Katolik. Perjumpaan manusia dan Kristus yang seperti akan memberi warna pengertian pembinaan hidup sehari-hari dalam iman yang akan terasa perbedaannya dengan orang lain atau agama lain. Bentuk bisa saja sama, namun isi bisa berbeda dan inilah yang membedakan antara tindakan yang kristiani dan tidak. Teladan dari Kristus menjadikan manusia, umat-Nya merasakan kasih Bapa yang sungguh murni dan membuat manusia memiliki hasrat dan gerak batin yang sama dalam mempersembahkan hidup sehari-harinya. Perjumpaan dengan Kristus memberikan hidup pada manusia yang mudah lelah dan gampang menyerah. Kristus memberikan hasrat dan semangat untuk masuk dalam jerih payah dunia. Jerih payah Kristus dalam perjalanan salibnya, memberikan teladan untuk tetap fokus dan terarah pada Allah walaupun dunia di kanan dan kiri manusia sangat mengenakan dan penuh godaan. Tanpa hasrat tersebut kerja keras manusia akan sia-sia karena kerja keras manusia hanya akan menjadi sesuatu yang kosong dan hampa, tak ada isinya. Bersama Kristus, kerja keras manusia sampai pada tujuan hidupnya. Maka, situasi manusia di dunia ini adalah berkerja keras berinteraksi dengan Allah.


Manusia dalam menjalankan hal tersebut juga tidak bisa melewatkan rahmat yang sama yang ada dalam Kitab Suci. Kembali pada Kitab Suci dan meneruskannya memberikan kesaksian yang indah dalam peristiwa iman. Ilmu pengetahuan dan modernitas dunia sekarang ini atau segala bentuk interaksi manusia dengan Allah adalah jalan menuju Allah di mana manusia dalam pengabdiannya kepada Allah harus mau berkerja keras dan menjunjung tinggi nilai-nilai kristiani. Manusia yang berinteraksi tersebut adalah hasil dari sejarah iman dari rahmat atau Roh Kudus yang satu dan sama.

Epilog
Kisah yang ada dalam tulisan “Memulai Hidup dari Nol” adalah kisah mengenai iman yang menarik dewasa ini. Terutama berkaitan dengan orang muda yang saleh dan rahmat Allah yang tidak sesuai dengan keinginan-Nya. Penulis, Andre Sulistyo, memaparkan bahwa dirinya telah berusaha dalam doa yang saleh dan suci untuk mendapatkan pekerjaan, namun doanya tidak dikabulkan sampai satu saat ia sendiri menjadi seorang fatalistis. Enggan mau berdoa. Nampak bahwa saudara Andre berusaha pasrah melimpahkan kemauan dan cita-citanya pada Allah, sementara ia menunggu dalam kepasifan. Kegagalan yang ia rasakan semata-mata karena dirinya yang kurang mau membuka mata terhadap peranan rahmat dan Roh Kudus. Ia masih melihat dengan sebelah mata yaitu terus menerus meminta pada Allah, memaksakan kehendaknya dan tidak menyerahkan dirinya sehingga ia merasa hidup di mulai dari nol. Allah dijadikan sarana pemuasan diri atau pemenuhan hasrat manusia saja.


Saudara Andre sebenarnya memiliki kemampuan dan pengalaman yang asli yang belum ia sadari. Ia memiliki kemampuan akademik, kertampilan memelihara bunga, kepandaian menjalin relasi dengan rekan-rekan seusaha dan memiliki kemauan serta semangat yang kuat dalam berusaha, dan tentu masih banyak lagi. Kemampuan serta pengalaman-pengalaman asli ini bukan semata hasil usaha manusia, tetapi merupakan karunia-karunia Allah. Inilah awal insiatif atau interese Allah agar manusia mengambil bagian dalam hidup Allah karena Allah menghendaki manusia menjadi terlibat dalam kehendak dan bekerja keras dalam karya usaha ilahi. Saudara Andre pada awalnya belum sampai pada pengakuan pengalaman yang berasal dari Allah, pengalaman yang sambung menyambung dengan Allah lewat kesadaran kemampuan aslinya. Ia masih memihak pada dirinya.


Saudara Andre berpartisipasi dalam interaktif dengan Allah yang terwujud dalam mengaktifkan segenap kesanggupan pengalaman yang ada pada dirinya. Bertolak dari pemahaman ini jadi saudara Andre tidak memulai hidupnya dari nol. Sudara Andre membangun hidupnya atas dasar apa yang telah dikaruniakan Allah baginya. Saudara Andre mengatakan bahwa hidupnya mulai dari nol karena bertolak dari pemahaman yang keliru bahwa Allah yang harus Aktif berbuat sesuatu bagi manusia sementara manusia menantikan hasilnya. Sesungguhnya Allah aktif demikian pun manusia turut aktif.


Dalam bahasa iman, Allah dan manusia hidup dengan saling berinteraksi. Manusia dan Allah berbagi kehidupan yang satu dan sama di dalam dunia ini, juga dalam setiap perkembangan zaman atau kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan sekarang ini. Dengan demikian, manusia dalam kemanusiaannya menjadi mitra Allah. Manusia dapat mengaktifkan kemampuannya untuk berani berinteraksi dengan Allah. Dalam berinteraksi dengan Allah atau dalam membina iman, pengalaman menjadi titik pijak yang penting.

John Courtney Murray


John Courtney Murray ( 12 september 1904 – 16 Agustus 1967). Teolog Jesuit. Ia lahir di kota New York. Ayahnya seorang pengacara, Michael John Murray.


Murray masuk Serikat Jesus tahun 1920. Setelah menyelesaikan filsafat di Boston Collage (BA 1926, MA 1927) ia mengajar Sastra Latin dan Inggris di Ateneo de Manila, Philippina. Tahun 1930, ia kembali ke Amerika untuk studi Teologi di Woodstock Collage, Maryland hingga 1934. Saat studi, 1933, ia ditahbiskan dan kemudian melanjutkan studi lanjut di Gregoriana University. Tahun 1937 dia menyelesaikan doktornya dalam sacred theology (STD) dengan spesialisasi doktrin rahmat dan trinitas. Setelah itu ia kembali ke Woodstock dan mengajar teologi Trinitas. Tahun 1941 dia menjadi editor jurnal Jesuit, Theological studies. Dia memegang dua perkerjaan ini hingga wafatnya, 1967. Ia menulis banyak buku dan salah satunya adalah yang kita pelajari sekarang ini “We Hold These Thruths” yang diterbitkan pada tahun 1960. Ide berteologi Murray, terutama tentang Gereja dan Negara, mengalami masalah, terutama dari para pemimpin Gereja, Alfredo Kardinal Octaviani, prefek Kuria Vatikan dan juga beberapa teolog dan orang katolik US. Dia dilarang mengajar dan menulis hingga 1950 karena idenya ini. Ide-idenya sangat modern dan akhirnya pada Konsili Vatikan II ia diundang dan memberikan kontribusi besar dalam dokumen Dignitatis Humane, 1965.

Dua isu dasar yang memunculkan permasalahan tentang kebebasan, menurut Murray, yaitu hakekat spiritual dari hidup bersama dan stuktur fundamental dari hidup bersama. Hakekat spiritual hidup bersama muncul dari konsep kristiani, res sacra homo, manusia itu suci, dan struktur fundamental hidup bersama bukan tentang masalah legal sipil, melainkan mengenai struktur ontologi bermasyarakat, sehingga aturan dasar bermasyarakat harus berasal dari refleksi, bukan semata teori. Dua isu dasar ini sangat umum dan selalu berkaitan dengan sifat dasar dan struktur realitas hidup bersama.


Permasalahan kebebasan, menurut Murray, sudah berkembang. Doktrin tentang kebebasan yang menyatakan bahwa pemerintah adalah musuh kebebasan sudah dihiraukan karena Gereja dan negara telah terpisah. Konsep modern ini dari kebebasan masihlah berbahaya karena modernitas mengabaikan sisi kebersamaan manusia. Modernitas hanya melihat kebebasan dari konteks tanggung jawab, keadilan, aturan, dan hukum, yang sebenarnya merupakan peripheral. Di sini modernitas masuk dalam dikotomi individualisme dan kolektivisme. Manusia di zaman sekarang ini sepertinya hanya akan mewujudkan mimpi cartesian padahal masalah utamanya adalah terputusnya mimpi karena tidak tahu Descates. Sehingga master dari dunia ini menjadi bukan diri manusia sendiri. Manusia telah kehilangan identitasnya padahal sebenarnya manusia adalah master dan pemilik alam ini.


Permasalahan ini akan mungkin diselesaikan jika kita melihat tradisi liberal dunia Barat, yang berkaitan erat dengan kristianitas. Pengalaman politik kebebasan merupakan usaha untuk menemukan dan memasukan ke dalam dunia pengganti yang lebih sekular dari tradisi kristiani.


Kebebasan beragama telah didiskusikan berabad-abad, terutama pada abad pertengahan. Ada konflik antara Gereja dan modernitas, tidak hanya suatu problem spirit (semangat kebebasan) melainkan juga politis. Usaha politis dari kekristenan adalah menghancurkan pandangan klasik tentang masyarakat senagai struktur yang satu dan sama dimana kekuatan politik berdiri tegak diantara agama dan sipil. Kaisar Augustus merupakan Summus Immperator dan juga Pontifex Maximus. Menurutnya “diluar kekaisaran tidak ada masyarakat sipil, yang ada hanya orang-orang barbar’.


Pandangan kristiani yang lebih baik adalah dari Gelasius I yang menyatakan bahwa harus ada pembedaan antara yang suci dan secular. Dia menulis kepada Kaisar Bizantium, Atanasius, 494, yang menyatakan ada “dua” yang mengatur hak original dan kedaulatan, yaitu concecrated authority of the priesthood dan the royal power. Pandangan Gelasius I ini oleh Alois Dempf, dalam Sacrum Imperium, disebut sebagai “Magna Charta” dari seluruh kebebasan dalam Gereja di abad pertengahan. Kebebasan dalam Gereja merupakan suatu partisipasi dalam kebebasan anak Allah yang berinkarnasi, Allah manusia, Kristus Yesus.


Dengan demikian, Murray, lewat pandangan Gelasius I, menegaskan akan adanya paham kebebasan baru dan ia menerangkannya dalam dua bagian, yaitu kebebasan Gereja dalam otoritas spiritual dan kebebasan Gereja sebagai orang-orang kristiani. Kebebasan Gereja dalam otoritas spiritual berkaitan dengan cura animarum, ada kebebasan untuk mengajar, mengendalikan, menyucikan. Namun kebebasan ini memiliki aspek negatif yaitu menjadikan Gereja kebal karena adanya suprapolitical sacredness dari segala politik negara. Dengan adanya otoritas spiritual, negara tidak bisa seenaknyan terhadap kehidupan bersama manusia. Manusia sebagai res sacra homo menemukan kebebasannya menuju keinginan sucinya. Manusia akan menemukan kebebasannya ketika ia menemukan imannya, di dalam Gereja. Gereja dengan demikian bisa mendampingi manusia hingga sampai pada kebebasannya dan ini tidak bisa diperoleh lewat negara.


Kebebasan Gereja sebagai orang-orang kristiani berkaitan dengan hidup menjadi kristen seperti mendapakan ajaran Gereja, mentaati aturan Gereja, menerima rahmat sakramen-sakramen, dan hidup bersama. Dengan paham ini Gereja bersikap netral karena berada di tengah politik pemerintah dan masyarakat sehingga Gereja bisa menawarkan tata hidup moral dan menjadikan negara selalu lebih baik. Manusia diajak untuk “berperang demi keadilan dan juga demi kebebasan semua orang”.


Murray menyatakan bahwa ini adalah dalil kristiani. Kebebasan Gereja dimengerti sebagai kunci dari Christian order masyarakat. Masalah kemudian dalam sejarah bahwa dalil ini kemudian tidak bertahan lama karena dalam masyarakat itu sendiri kebebasan dan keadilan dirusak oleh bangkitnya monarki-monarki nasional yang menjadikan dua hal ini menjadi satu, diurus oleh raja, yang absolut.


Kunci untuk bangunan politik yang baru ini adalah kebebasan hati nurani perorangan. Di sini kepercayaan sangat dibutuhkan. Percaya, hati nurani seseorang yang bebas, secara efektif dapat menegahi imperatif moral dari transendental order of justice. Inilah yang akan membawa manusia pada tindakan moral sehari-hari. Hati nurani manusia yang bebas merupakan otoritas spiritual yang penuh kuasa yang darinya selalu muncul praksis moral. Ini akan membawa manusia pada kesuciannya. Dengan demikian, apa yang dimaksud Gelasius I dapat berjalan karena ada pemisahan antara Gereja dan negara. Manusia ataupun masyarakat dapat merasakan kejelasan hidup, yaitu antara hidup untuk yang benar, untuk bonnum commune, dan ketertiban umum, public order. Gereja dan negara saling terpisah dan juga saling membantu dalam membangun masyarakat yang modern. Namun, yang menjadi fokus utamanya adalah masyarakat. Manusia tidak akan dibingungkan dengan siapa yang harus mereka taati, Gereja atau negara. Adanya kristianitas bukan untuk mempersulit hidup bermasyarakat karena muncul satu pemimpin selain negara. Pemisahan ini harus ada karena status ontologis yang berbeda antara negara dan Gereja terhadap masyarakat.


Permasalahan yang pernah terjadi karena tidak ingin ada campur tangan dari Gereja. Kerajaan menjalankan monarki absolut di mana raja/kaisar adalah sekaligus pemimpin sipil dan spiritual. Paham ini tidak lagi dua, melainkan satu. Mulai abad 17 paham satu mulai berkembang dengan model kerajaan absolut dan pada abad 20 pandangan Gelasius tidak lagi dianggap. Yang ada adalah masyarakat yang satu. Hukum, otoritas, intelektual, agama, dan moral diurus negara.
Marx juga menyatakan hal yang sama di mana ia menolak peranan Gereja dalam hidup bermasyarakat. Menurutnya negara dan Gereja selalu berbenturan dan akan selalu memperburuk keadaan. Menurutnya, sesuai yang dikutip Hocking, hanya satu yang memerintah dunia ini.


Dengan demikian, yang ada adalah satu masyarakat, satu hukum, dan dengan satu kekuasaan, masyarakat yang sama. Modernitas telah membuat paham Gelasius ini heresi dan tidak digunakan lagi. Gambaran masyarakat demokratis menjadi satu dalam struktur dan sekular dalam substansinya. Hal ini merupakan hasil dari modernitas politis. Tentu saja, bagi Murray ini mengherankan karena Gereja, lewat Gelasius, berjuang untuk memberikan kebebasan kepada manusia untuk bertindak dalam masyarakat. Negara bukanlah masyarakat, negara hanya sebagian dari masyarakat sehingga, menurut Murray, tidak boleh menjadi satu.


Dengan modernitas sekarang ini, hidup bermasyarakat menjadi sulit. Manusia hanya ikut negara dan bukan ikut dirinya sendiri. Komunisme makin mempersulit keadaan karena menuntut satu dengan negara. Komunisme telah membalik paham Gelasius. Paham kebebasan dan keadilan ikut paham negara, bukan berangkat dari diri manusia, hati nuraninya.


Namun yang terjadi, dalam negara modern, paham satu ini terbukti impoten. Nilai bersama, pendidikan, kontrol ekonomi, moralitas umum, keadilan dan hukum telah terbukti tidak kompeten karena manusia menjalankan semua ini karena urusan negara, secular. Tidak berkaitan dengan nilai transendental manusia. Yang memang dibutuhkan adalah motivasi diri manusia untuk self-ruled, self-contained, dan self motivating. Inilah peranan Gereja dalam memberikan kebebasan pada manusia sehingga hal-hal moral/praktis hidup sehari-hari menjadi lebih bernilai dan bermakna, muncul dari diri manusia sendiri. Manusia memiliki kesadaran untuk yang terbaik bagi dirinya dan masyarakat karena sisi transendentalnya.


Namun, Murray merasakan adanya kerancuan. Menurutnya modernitas hanya menolak kebenaran dari wahyu ilahi, yang merupakan sisi esensial Gereja. Romano Guardini juga menyatakan hal yang sama bahwa ada pnghianatan dari struktur eksistensial suatu realitas yang berasal dari Gereja. Modernitas sebenarnya tidak menolak apa yang diajarkan Gereja, yaitu mengenai nilai-nilai moral, individual dan sosial. Setidaknya paham res sacra homo masih bergema dalam hidup bermasyarakat. Nilai-nilai ini telah menjadi imanen dalam diri manusia dan bahkan telah menjadi milik manusia. Kristianitas dalam modernitas mungkin tidak kelihatan namun penampakan daya tariknya menjadi sesuatu yang dinamis dalam kebebasan dan keadilan di dunia ini. Res sacra homo kini berada dibawah patron baru, modernitas.

Doa Air Ignatius

St. Ignatius pelindung agung,
Tatkala engkau masih hidup di dunia ini, St. Filipus Neri, murid dan sahabatMu mengatakan bahwa Engkau akan menjadi pelindung istimewa para ibu dan mereka akan engkau berkati pada waktu melahirkan anak, jika mereka mohon perlindunganmu. Perkataan santo yang mulia itu sudah dibenarkan secara mengagumkan dan setiap hari terbukti kebenarannya. Sebab itu, kami pun, dengan penuh pengharapan memohon kepadamu, sudilah memohonkan kepada Tuhan, supaya anak kami boleh lahir dengan selamat. Ya santo yang berkuasa dan penuh kasih sayang, janganlah mengecewakan pengharapan kami. Engkau tahu bahwa harapan kami hanya satu, yakni mendidik anak kami untuk Tuhan, jika dikaruniakan Tuhan kepada kami. Kami serahkan anak kami, supaya seumur hidup-nya, ia tetap setia mengabdi kepada Tuhan dan memuji serta memuliakan namaNya selamanya. Kabulkanlah doa kami agar kami boleh menerika karunia itu.
Sekarang kami berjanji, agar anak yang dikaruniakan Allah kepada kami ini, akan kami persembahkan kepada Hati Yesus yang Mahakudus, dan kami letakkan di bawah perlindunganMu sebagai bapa. Semoga anak ini mengukuhkan janji setia perkawinan kami, agar kami bersama seluruh keluarga senantiasa memuliakan Allah sepanjang segala masa.
St. Ignatius, doakanlah kami. Amin.

--Doa St. Ignatius (Ambilah dan Terimalah/Jiwa Kristus), diakhiri dengan doa Bapa Kami, kemudian, air dimunum--

Thursday, September 10, 2009

St. John de Britto


John de Brito (João de Brito, 1647-1693) was one of the earliest Jesuit missionaries in India to adopt elements of the local culture in his evangelization. He was eventually martyred because of his success and his steadfast refusal to accept honors and safety. He was born of Portuguese aristocracy and became a member of the royal court at age nine and a companion to the young prince later to become King Peter II. When de Brito was young, he almost died of an illness and his mother vowed he would wear a Jesuit cassock for a year if he were spared. He regained his health and walked around court like a miniature Jesuit, but there was nothing small about his heart or the desire that grew to actually become a Jesuit. Despite pressure from the prince and the king, he entered the Jesuit novitiate in Lisbon Dec. 17, 1662 when he was only 15 years-old. He studied classics, with an interruption because of health problems, then philosophy. He wrote to the superior general in 1668 asking to be sent to the east as a missionary, but had to finish theology first. He was ordained in February 1673 and left Lisbon for Goa in mid-March, arriving the following September. He studied more theology in Goa and was asked to remain as a teacher but he desired to be a missionary and to seek the glory of martyrdom.Father de Brito worked in Madura, in the regions of Kolei and Tattuvanchery. When he studied the India caste system, he discovered that most Christians belonged to the lowest and most despised caste. He thought that members of the higher caste would also have to be converted for Christianity to have a future. He became an Indian ascetic, a pandaraswami since they were permitted to approach individuals of all castes. He changed his life style, eating just a bit of rice each day and sleeping on a mat, dressing in a red cloak and turban. He established a small retreat in the wilderness and was in time accepted as a pandaraswami. As he became well-known, the number of conversions greatly increased.

He was made superior in Madura after 11 years on the mission, but he also became the object of hostility from Brahmans, members of the highest caste, who resented his work and wanted to kill him. He and some catechists were captured by soldiers in 1686 and bound in heavy chains. When the soldiers threatened to kill the Jesuit, he simply offered his neck, but they did not act. After spending a month in prison, the Jesuit captive was released. When he got back to Madura, he was appointed to return to Portugal to report on the status of the mission in India. When he reached Lisbon ten months later, he was received like a hero. He toured the universities and colleges describing the adventurous life of an Indian missionary. His boyhood friend and now-king, Peter II noticed how thin, worn and tired his friend looked; he asked him to remain at home to tutor his two sons, but de Brito placed the needs in India above the comfort of the Portuguese court.

De Brito sailed again to Goa and returned to the mission in Madura when he arrived in November 1690. He came back despite a death threat that the raja of Marava had made four years earlier. The Jesuit missionary travelled at night from station to station so he could celebrate Mass and baptize converts.

His success in converting Prince Tadaya Theva indirectly led to his death. The prince was interested in Christianity even before the prayers of a catechist helped him recover from a serious interest. De Brito insisted that the prince could keep only one of his several wives after his baptism; he agreed to this condition, but one of the rejected wives complained to her uncle, the raja of Marava who sent soldiers to arrest the missionary on January 28, 1690. Twenty days later the raja exiled de Brito to Oriyur, a neighboring province his brother governed. The raja instructed his brother to execute the troublesome Jesuit who was taken from prison on February 4 and led to a knoll overlooking a river where an executioner decapitated him with a schimitar.

Monday, September 7, 2009

Peter Claver


St. Peter Claver, S.J., whose saint day is sept 9, was a Jesuit sent to Colombia in the late 16th century. He spent his time on the wharf, welcoming the ships and caring for the slaves being brought to South America. Can you imagine what the holds of those ships were like…and what condition many of the slave men, women and children were in? He found ways to “feed the hungry, find shelter for some, tend their wounds and bury their dead.” One of his verses is: “Seek God in all things and we shall find God by our side.” His life surely praised God. His wealth was in service to others. Peter Claver devoted great care to slaves just arriving in South America despite the social convention that did not consider them human. Claver first encountered Jesuits in Barcelona during his university studies. He entered the Society of Jesus in 1602 and studied philosophy on the island of Majorca at the college of Montesión whose doorkeeper, Brother Alphonsus Rodríguez, was already known for the holiness that would later be recognized by the Church when it canonized him. The saintly brother encouraged the young Jesuit's desire to do something great for God and suggested he consider being a missionary in the New World.


Claver offered himself for the missions, and the provincial sent him to Colombia in 1610. After he finished his study of theology in Bogotá, Claver went to Cartagena on the Caribbean coast where he was ordained a priest in 1616 and where he would spend the rest of his life ministering to slaves who arrived in that port from Africa. Cartagena was one of two Spanish ports designated to receive slaves; an estimated 10,000 of whom passed through the port each year during Claver's time. They were usually in horrible condition after the long voyage. Claver waited on the dock with food he had begged. Accompanied by former slaves who served as interpreters, the Spanish Jesuit then boarded the ships and greeted those on deck before descending into the ship's hold to care for the sick. He cleansed wounds, applied ointment and bandages and spoke about God. Slaves only remained in Cartegena for a few days, so Claver worked very quickly to prepare people for baptism. Instruction was necessarily limited, and Claver baptized a great number of slaves. He also visited hospitals, one of which cared for lepers, and saw Dutch and English prisoners of war. A plague struck Cartagena in 1650, and eventually took Claver as a victim after he had cared for others afflicted by the disease.


In the light of GC 35, we see Peter Claver as a great example of going to frontiers. He found God through his inner spirit to the poor and by obidence he cratively mind his mission, to the slaves. Mission and obidience, in GC 35, ask us to realize that the Creator and Lord in person communicates Himself to the devout soul in quest of divine will. God will not only lead a man to what He wants done, but will also inflame with His love and praise, and dispose it for the way in which could better serve, to the frontiers. Joe Tetlow, a spiritual director, wrote that the fullness of Jesuit spirituality leads a man to union with God-acting, and with God acting everywhere in the cosmos. So, the Jesuits is prepared to go anywhere at any time and to do anything within his capacity to do, going even to those physical and spiritual places which others do not reach or have diviculty in reaching. This union can come only with constant effort to know Him better, love Him more, and follow Him more closely.


Peter Claver as a man sent by God did his mission in a great obidience and a fully love to the needs. He became one with God through his prayers to take hand a very distracted people and became an opposition with the authority, the rich. He eased the slaves, cared to the sick, and ready to be not entrusted. In our mission, I think, we really do not need to quest our obidience but through obidience we become the hands of God in the frontiers.

Saturday, August 29, 2009

Carl Smitt: Tindakan Kekerasan

Kehidupan pada zaman liberal merupakan bentuk kehidupan yang monoton, menurut Carl Schmitt, karena segalanya diseragamkan dan dihomogenkan oleh hukum. Hukum telah menjadikan kehidupan juga bersifat birokratif dan administratif. Carl Schmitt dengan pandangan politiknya ingin berpaling dari kehidupan ini. Ini ingin manusia hidup dalam perjuangan dan keberanian asalinya di mana dengan begitu manusia mampu menemukan eksistensi dirinya. Maka dari itu, Schmitt mengkritik liberalisme sebagai belenggu keberanian dan kekuatan manusia (=massa). Dalam hidup bernegara hubungan masyarakat dengan negara harus ditandai dengan Yang Politis dan bukan hukum. Inilah intensi Schmitt dalam filsafat politiknya yaitu melestarikan Yang Politis. Yang Politis harus mengatasi segalanya, termasuk hukum atau dengan kata lain konsep negara itu mengandaikan konsep tentang Yang Politis .
Dalam praktek-praktek politis, Yang Politis juga memposiskan diri. Ia berada dalam setiap gerak negara. Yang Politis ada dalam keputusan subjek kedaulatan dan juga dalam tindakan kekerasan. Konsep masyarakat Schmitt adalah masyarakat yang membutuhkan pegangan ketika khaos. Manusia digambarkan jahat dan berbahaya, namun dapat takut oleh otoritas (subjek) kedaulatan. Tindakan kekerasan itu bagai antinomi kawan dan lawan. Dengan konsep seperti ini, Schmitt beranggapan bahwa masyarakat yang berada dalam antinomi ini membutuhkan arah angin atau keputusan sang subjek. Keputusan yang akan membawa mereka pada kehidupan baru yang lepas dari yang sebelumnya. Namun masa ini tidaklah terjadi sekali sehingga sebjek kedaulatan membutuhkan tindakan kekerasan untuk tetap bisa mempertahankan kedaulatannya atau dengan kata lain distingsi kawan dan lawan itu akan terjadi terus menerus.

Dalam paper ini saya akan memfokuskan pada keputusan subjek kedaulatan dan kekerasan menurut Carl Schmitt. Buku yang saya acu adalah “The concept of the Political” dari Carl Schmitt yang sepertinya berbicara tentang tindakan itu sendiri dan juga mengenai keputusan sang subjek kedaulatan atas keadaan darurat . Pada awal saya akan memaparkan mengenai latar belakang dari pemikiran Carl Schmitt yaitu bagaimana zaman modern di masanya telah membuatnya berpikir mengenai negara yang mengucilkan Yang Politis. Kemudian akan dilanjutkan dengan pemikiran Carl Schmitt akan keputusan subjek kedaulatan dan tindakan kekerasan sebagai wujud konkrit kedaulatan. Di akhir saya akan menyimpulkan dan memberi tanggapan kritis yaitu mengenai apakah kedaulatan satu orang mampu membentuk stabilitas suatu negara? Apakah kekerasan benar-benar mampu membangkitkan yang politis? Apakah dengan pemikiran ini kita masuk ke dalam kediktatoran baru?

LATAR BELAKANG
Pemikiran politik Carl Schmitt atas keputusan subjek kedaulatan dan kekerasan massa merupakan suatu kritik terhadap liberalisme, konsep negara hukum yang dikembangkan pada zaman modern. Menurutnya, liberalisme telah gagal atau berakhir . Liberalisme telah membawa kita pada zaman neutralisasi dan depolitisasi. Ini karena hukum telah mensistematisasi segalanya, termasuk tindakan dan keputusan. Semuanya menjadi berproses secara homogen dan seragam menurut mekanisme birokratis negara. Hidup manusia pada masa itu menjadi datar dan tanpa resiko. Konsep negara hukum yang merupakan ciri khasnya dan berserta sistem-sistemnya lebih diprioritaskan daripada yang politis. Keputusan-keputusan yang politis juga berada di bawah konsep negara. Liberalisme telah membawa negara pada kejanggalan setiap tindakan dan keputusan yang politis.

Zaman modern terlalu bergerak dengan hukum, tergantung pada rasionalitas operasional dan bukan pada kekuasaan dan kedaulatan. Negara dengan hukum telah bergerak secara mekanistis dan itu mengurangi kekhasan dari suatu negara. Tak ada lagi kemungkinan yang dapat menspesifikasikan suatu negara karena segalanya telah menjadi homogen. Pada zaman seperti ini, Schmitt beranggapan, Yang Politis tidak mendapat tempatnya dalam masyarakat. Yang politis telah dikuburkan oleh hukum-hukum negara. Akhirnya, arti negara menjadi status politis dari suatu bangsa yang teratur dalam suatu teritori. Dalam hal ini politik itu identik dengan negara .

Schmitt menyatakan bahwa konsep negara itu mengandaikan konsep tentang Yang Politis. Politik seharusnya tidaklah identik dengan negara melainkan mengatasi negara. Bagi Schmitt, identifikasi antara politik dan negara hanyalah salah satu momen historis dan tidak bersifat abadi seperti yang digariskan oleh liberalisme. Yang politis mendahului dan mengatasi yang lain, yaitu negara dan masyarakat. Maka apa yang memang diperlukan, menurut Schmitt, adalah tergantikannya pemikiran liberal yang sistematik dan konsisten itu dengan sistem lain yaitu sebuah sistem yang tidak menegasi yang politis melainkan yang mampu membawanya kepada pengakuan (recognition) . Intensi Scmitt dalam proyek ini adalah untuk menyelamatkan yang politis dan mengembalikannya pada martabatnya yang sesungguhnya.

KEPUTUSAN SUBJEK KEDAULATAN
Untuk memahami lebih jelas mengenai keputusan subjek kedaulatan, penulis akan menganalogikannya dengan keputusan seorang hakim. Dalam memutuskan suatu perkara ada dua model hakim dalam pengadilan kita, yang satu adalah hakim yang hanya ikut tata cara hukum yang berlaku dalam memutuskan dan hakim yang lain adalah hakim yang adil dan berani memutuskan sesuatu atau membuat putus yang kadang lepas dari tata cara hukum yang berlaku. Prinsip keputusan Schmitt ada pada model yang ke dua di mana sang hakim dengan kemampuannya berani mengambil sikap dan tidak seturut dengan hukum yang ada. Peristiwa pengambilan keputusan ini disebut sebagai momen pengambilan keputusan atau momen yang tak terduga.

Keputusan sang subjek kedaulatan selalu merupakan keputusan yang tidak terikat pada apapun. Keputusan tersebut berasal dari ketiadaan (ex nihilo), karena tanpa dasar, tanpa sumber asli, dan tanpa pola yang dapat didugai. Keputusan yang dibuat oleh subjek kedaulatan versi Schmitt seperti halnya lompatan (sprung) dalam permenungan Kierkegaard. Di sini Schmitt ingin menunjukan bahwa adanya keputusan subjek kedaulatan pada akhirnya tak lain daripada sesuatu yang arbiter atau ada dikontinuitas dengan tindakan memutuskan dengan masa lalu . Keputusan ini lepas dari norma-norma hukum kodrat maupun norma-norma hukum positif (=desisionisme ).

Dalam bernegara keputusan seperti ini sangat penting, terutama dalam membangkitkan yang politis. Schmitt menyatakan bahwa tatanan yang politis itu lahir dari keputusan. Hukum yang menghomogenkan atau menyeragamkan tidak mengangkat yang politis melainkan menjadikannya indentik dengan hukum tersebut. Schmitt menolak ini dan menyatakan bahwa negara haruslah tertata dengan hukum di mana negara tersebut selalu berada dalam konflik. Maka dengan adanya konflik, di mana manusia oleh Schmitt dikatakan berbahaya, harus ada otoritas tertentu atau yang politis agar tatanan politik atau hukum dapat tercipta.

Keputusan dan subjek yang (akan) berdaulat akan memiliki peranan penting ketika berada pada keadaan darurat. Dalam keadaan darurat ini momen keputusan sangat diharapkan untuk dapat menata negara. Di sini jugalah yang politis mendapatkan peranannya. Manusia dalam keadaan darurat mulai terlihat jati dirinya yang asli. Khaos merupakan keadaan yang tepat untuk menggambarkan pemikiran Schmitt ini. Maka, dalam keadaan yang serba tak menentu ini masyarakat membutuhkan suatu pegangan untuk mengarahkan diri. Oleh Schmitt, masa seperti inilah yang harusnya dimanfaatkan subjek kedaulatan dengan membuat keputusan. Akhirnya yang terjadi, masyarakat yang berada dalam khaos menjadi tertata dan subjek yang berdaulat menjadi sumber konstitusi . Yang berdaulat adalah, barangsiapa yang mengambil keputusan atas keadaan darurat .

TINDAKAN KEKERASAN
Kekerasan dalam pengertian Schmitt hampir sama dengan pemahaman dari Hobbes. Hobbes dengan state of nature-nya memandang adanya konflik antar individu dikarenakan manusia yang dilahirkan jahat dan berbahaya. Manusia adalah mahluk yang berbahaya dan oleh karena itu haruslah dijinakan dengan sebuah tatanan hukum. Oleh Schmitt pandangan ini diangkat dan disempurnakan bahwa kejahatan manusia harus dilunakkan lewat otoritas dan ancaman kekerasan. Namun, pandangan Schmitt dalam kekerasan ini tidaklah merupakan konflik antar pribadi dan kelompok melainkan konflik antar massa (the social).

Kekerasan massa dalam khaos yang merupakan wujud dari keadaan darurat dapat diselesaikan oleh subjek kedaulatan dengan membuat suatu keputusan atau suatu bentuk kekerasan yang lain. Keputusan di sini mengatasi khaos, mengatasi situasi nol dan menjadi pangkal segalanya yang datang kemudian atau momen di mana kekerasan menemukan eksistensinya. Dengan adanya kekerasan maka yang politis menjadi ada dan tidak lagi terkubur oleh hukum yang birokratif dan administratif.

Kemudian untuk memahami kekerasan yang kemudian akan mendaulatkan Yang Politis ini, Schmitt membuat suatu distingsi yang khas dan bersifat final, yaitu distingsi antara kawan dan lawan. Dalam setiap pandangan pasti ada yang final, misalnya dalam moralitas yang final itu adalah distingsi antara “good” dan “evil” dan dalam estetika ada “beautiful” and “ugly”. Kemudian yang final dari Yang politis itu terdapat dalam distingsi antara “friend (kawan)” dan “enemy (lawan)” itu sendiri. Konsep kawan dan lawan ini bukanlah suatu metafor ataupun simbol melainkan konsep yang harus dimegerti dalam pandangan yang konkrit dan eksistensial . Kawan dan lawan dalam realitasnya selalu bersifat antinomi. Timbulnya antinomi kawan dan lawan mengatasi konsep-konsep yang terdapat dalam masyarakat, seperti moralitas, ekonomi, estetika, dll. Dalam memahami moralitas, ekonomi, dan konsep lainnya kita harus masuk terlebih dahulu ke pandangan Yang Politis, antinomi antara kawan dan lawan. Antinomi ini sangatlah mewarnai Yang Politis dalam mengembangkan masyarakat dan negara. Antinomi ini adalah derajat intensitas yang paling ekstrim yang mampu menghisap segala antinomi lain ke dalam wilayahnya. Maka, distingsi ini secara total menjadi dasar tindakan-tindakan dan motif-motif politis.

Konsep lawan, menurut Schmitt, bukanlah konsep seseorang menjadi “competitior” atau musuh pribadi melainkan sebagai partner dalam konflik . Seorang lawan hanya ada jika terjadi suatu konfrontasi secara kolektif. Konflik akhirnya menjadi khaos dan ini disebut sebagai masa krisis namun kemudian, oleh Schmitt, diharapkan ada “order” setelah dibuat suatu keputusan. Maka antinomi antara kawan dan lawan merupakan prinsip diferensiasi yang mengawali lahirnya sebuah sistem.

Konsep lawan tidak bisa bersikap netral. Jika demikian maka Yang Politis akan berakhir dan kemudian jatuh pada neutralisasi dan depolitisasi yang akan membuat masyarakat menjadi datar. Maka untuk menjadikan Yang Politis tetap hidup, Schmitt menyatakan, bahwa kekerasan (perang) haruslah menjadi salah satu kemungkinan . Dunia yang tanpa ada kemungkinan untuk berperang atau dunia yang memang sudah damai dan tenang, oleh Schmitt, dikatakan sebagai dunia yang tanpa distingsi antara kawan dan lawan dan ini juga berarti dunia tanpa Yang Politis. Maka untuk tetap menghidupi dunia (negara) Yang politis harus tetap dikembangkan di mana sang subjek kedaulatan selalu siap sedia membuat keputusan dalam keadaan krisis. Kekerasan harus siap sedia setiap saat.

KESIMPULAN DAN TANGGAPAN
Melihat uraian Schmitt di atas yang merupakan ciri khas distingsi antara kawan dan lawan ternyata mampu menggerakan tindakan kekerasan sang subjek kedaulatan. Hal ini kemudian bisa membenarkan praktek militerisme yang kerap terjadi dewasa ini. Di sini individu dimasukan ke dalam kolektivitas dan kemudian kolektivitas itu diajak untuk melawan kolektivitas yang lain. Massa dimobilisasi melawan masa, individualitas tak ada lagi dan darah dijadikan lambang kekuatan kedaulatan. Suatu negara mendeferensiasikan diri dari negara yang lain. Perdamaian antara kawan dan lawan tidak dinyatakan sebagai sebuah akhir yang abadi melainkan hanya suatu masa di mana di kemudian hari akan terjadi konflik kembali. Hal ini ditujukan untuk menciptakan krisis atau keadaan darurat sehingga sang subjek kedaulatan dapat membuat keputusan untuk mempertahankan kedaulatannya. Dalam pandangan ini, titik puncak politik agung merupakan momen terlihatnya lawan dalam segala kekonkretannya sebagai lawan dalam suatu tindakan kekerasan. Kekerasan tidak pernah lepas dari keputusan sang subjek kedaulatan. Keduanya berkerja bersama untuk menyelamatkan Yang politis dan menempatkannya sesuai dengan martabatnya.

Filsafat Politik Schmitt memang mengagumkan. Ia menginginkan dunia ini tetap berjalan dengan penuh perjuangan dan mencoba menghindar dari positivisme yang mendatarkan kehidupan bermasyarakat atau bernegara. Ia mencoba membuat manusia keluar dari hukum-hukum yang mengatur kehidupan mereka. Dengan bangkitnya Yang Politis manusia akan bisa menemukan kegairahan dalam perjuangan entah dengan pertentangan ataupun perang, sebagai penyelesaian yang ekstrim. Semuanya berjalan menuju suatu “order” yang diinginkan, terutama yang diinginkan oleh sang subjek kedaulatan. Keputusan sang subjek kedaulatan menjadi titik pijak dalam menata negara di kemudian hari.

Saya pribadi menyatakan teori ini sebagai teori metafisis yang cemerlang dan yang mau membawa dunia kepada pengatur atau pemimpin yang tunggal di mana pemimpin itu adalah subjek yang mampu membuat keputusan yang berkualitas dan bermartabat. Jika ini terjadi maka dunia akan menjadi teratur dan selalu berkembang. Namun, kecenderungan buruk bisa saja terjadi ketika dengan teori ini satu orang atau sang pemimpin itu sendiri mampu mendapatkan kedaulatan dan mayoritas kehilangan jati diri dan juga kedaulatannya. Tambah lagi, kekerasan merupakan alat atau sarana yang dipakai untuk mewujudkan kedaulatan dan membuat keputusan. Keadaan darurat sepertinya bukan kondisi yang alami terjadi melainkan hasil kreasi untuk memposisikan yang politis.

Maka, setelah mempelajari filsafat politik ini dan membaca beberapa literatur yang membantu, saya beranggapan bahwa dengan keputusan yang dibuat oleh sang subjek kedaulatan dalam mengatasi kekerasan atau keadaan darurat sepertinya tidak mencerminkan keadilan. Keputusan yang dibuat oleh satu orang dan harus ditaati oleh sekelompok orang bisa bersifat arbitrer dan subjektif pada dirinya, bila diselewengkan. Jika demikian, pandangan desisionisme ini mengafirmasi kediktatoran di mana hal tersebut bisa dipimpin oleh pihak yang menang dan kuat entah itu segerombolan orang jahat. Kalau begini prosesnya, maka keadilan tak akan tercapai. Keadilan merupakan ciptaan dari penguasa. Tambah lagi, tak adanya sistem dalam negara ini akan membuat stabilitas mudah goyah. Sistem harus dibentuk dan dikuatkan dan ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak bisa begitu saja dihilangkan hanya untuk membuat keputusan yang sprung dan demi Yang Politis.

Adanya dikotomi kawan dan lawan sepertinya membuat hidup di dunia ini tidak aman. Memang dasar pemikirannya adalah manusia yang jahat, namun adanya martabat manusia yang jahat tidak selalu akan mencerminkan suatu permusuhan. Bisa saja ada persahabatan di antara yang jahat. Antinomi kawan dan lawan dalam pemikiran Schmitt saya rasa sangatlah mereduksi apa yang dinamakan persahabatan. Dunia sepertinya tidak selamanya dan secara keseluruhan hidup dalam konflik. Pasti ada beberapa sisi baik yang diwujudkan. Salah satunya adalah cinta, bisa saja dunia ini diciptakan atas dasar cinta (universal) di mana dengan berdasar pada itu keadilan dan keutamaan yang lain teratasi.

Friends





Wednesday, August 26, 2009

YESUS KRISTUS ILAHI


Sebagai orang Asia dan orang dari wilayah India khususnya, Tissa mempunyai kelekatan yang sangat kental dengan segala budaya, alam pikir dan karakter spiritualitas di tempatnya. Maka kiranya, teologi Tissa banyak dipengaruhi oleh bentukan-bentukan kultur dan paradigma religius yang dihayatinya.


Kenyataan yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa sebagian negara-negara Asia, termasuk Sri Lanka merupakan negara jajahan. Menurut Tissa penghayatan iman kristiani sangat dipengaruhi oleh masa pendudukan penjajah atau masa imperalisme. Tiga tipikalitas orang Sri Langka dalam mengungkapkan iman identik dengan kesederhanaan, menjunjung tradisi dan bersifat konservatif. Demikian juga cara beriman orang kristiani. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan kristianitas yang tumbuh di Sri Lanka adalah buah warisan kaum ”penjajah”.
Bagi Tissa pusat teologi masih berkisah soal agama kristen sebagai satu-satunya keselamatan. Pada waktu itu Gereja dipandang masih menyakini bahwa di luar Gereja tidak ada keselamatan. Oleh karena itu Kristianitas di Asia adalah iman yang aneh dan asing bagi kebanyakan masyarakat Asia. Maka, Gereja Kristen di Sri Lanka berusaha menarik sebanyak mungkin orang ke dalam tubuh Gereja. Di sinilah kemudian muncul persoalan besar yang dihadapi Gereja Asia pada umumnya dan Sri Lanka khususnya dalam mendaratkan iman. Di satu sisi, agama kristen merupakan kelompok minoritas, namun di belahan dunia yang lain superior di antara agama serta kepercayaan plural di Asia. Singkatnya menurut Tissa, Gereja mesti ”membebaskan” teologi yang dimiliki dari traktat Barat yang dirasa sangat asing bagi orang Asia itu, agar teologi sungguh mendarat di Asia. Untuk memahami pandangan Tissa Balasuriya kami sajikan beberapa pandangan yang diungkapkan beliau. Berikut ini akan kami sajikan pembahasan mengenai teks Yesus Kristus ilahi. Teks tersebut dipilih bukan karena kontroversial dalam kaitan dengan pernyataan Kongregasi Ajaran Iman. Namun reaksi-reaksi pada kasus Balasuriya dapat menjadi pertanyaan yang menuntun kita dalam membaca teks berikut.


Tissa mengajak kita bila ingin berbicara tentang Yesus Kristus, terlebih dahulu mesti mencari gambaran serta pengertian Yesus Kristus dalam Kitab Suci Kristiani. Terdapat sejumlah gambaran dan pengertian Yesus Kristus dalam Kitab Suci Kristiani:
1) Yesus, yang dilahirkan oleh Perawan Maria, di Betlehem, pada saat tertentu sejarah;
2) Kristus, yang diurapi, yakni dinantikan oleh orang Yahudi sebagai Mesias, ‘Raja orang Yahudi’ yang memulihkan kerajaan Israel ( Mrk 15, 26. 32; Kis 1,6 dst)
3) Pribadi kedua dalam Trinitas-Logos, Sang Sabda, yang dikenal sebagai Yesus Kristus atau Kristus Yesus. Sang Sabda ada pada awal, sebelum segala sesuatu dan, menurut injil Yohanes, segala sesuatu diciptakan dalam Sang Sabda dan untuk Dia;
4) Orang yang dibaptis dalam Kristus, mengenakan Kristus (Gal 3,27); Kristus terbentuk di dalam mereka (Gal 4,19); orang kristiani diinkorporasi dalam Gereja (Rom 6,11), agar hidup dalam Kristus (Flp 1, 21).

Puasa dan Olah Raga



Jangan khawatir kalau ingin Olah Raga ketika Anda berpuasa. Itu malah sehat dan sebaiknya dilakukan setiap hari, entah setelah sahur maupun sebelum berbuka. Lamawaktunya bisa disesuaikan dengan keinginan Anda.

Puasa jika diisi hanya dengan nonton ataupun melamun akan sia-sia saja. Isilah dengan olah raga yang akan semakin membuat Anda bugar dan tidak kehilangan kesegaran tubuh. Jangan olahraga berlebihan dan jangan takut haus. Setidaknya pikirkan kalau olah raga dan puasa itu sangat bermanfaat.

Dengan berolahraga, Anda akan menjadi semakin fit karena metabolisme tubuh Anda akan berjalan baik. Namun jika puasa hanya diisi dengan melamun maka tubuh akan terus loyo dan lemas karena lemak akan semakin tertimbun.




Wednesday, August 19, 2009

Thursday, July 23, 2009

Percikan yang Menyalakan Kobaran


Tahbisan SJ 2009

29 Juli 2009, pk 09.00
oleh. Mgr. I. Suharyo, Pr
di Gereja Antonius Padua,
Kota Baru, Yogyakarta

Yang Berbahagia:
1. Managam Tua Simbolon
2. A. Suharyadi
3. Budi Nugroho
4. Rumanto
5. Bagus T Dwiko
6. Handy Lenggawa

Saturday, July 11, 2009

150 tahun SJ di Indonesia

Pada tanggal 9 Juli 1859 tibalah di Batavia kedua Pater Misionaris Jesuit yang pertama, yakni Pater M vd Elzen dan Pater JB Palinckx. Di pasturan mereka menjumpai Mgr. PM Vrancken serta dua orang imam projo.... Di Jakarta para pastor telah dibantu oleh Suster-Suster Ursulin yang bertempat tinggal di "Groot Klooster" di jalan Nusantara. Pastor-pastor di Jakarta waktu itu sudah tinggal di pastoran yang sekarang ini masih dipergunakan dan sudah mempunyai pula suatu gereja kecil, tapi manis disebelahnya.

Penyerahan daerah misi ke Serikat membawa keutungan yang lain pula, yaitu: dengan Pater-Pater itu ikut pula Bruder-Bruder Serikat. Pada tahun-tahun yang berikutnya dan istimewa waktu memasang patok, ketika stasi-stasi baru didirikan, tenaga-tenaga Bruder itu membuktikan faedahnya yang amat besar bagi karya Misi ... dengan memimpin pembangunan sekolah, pastoran, atau gereja.

Pada tahun 1865 Pater Palinckx dipindahkan ke Jogja untuk mendirikan suatu stasi baru. ia dipertugaskan untuk memelihara para katolik yang hidup bersebaran di Kedu, Bagelan, dan Banyumas. Gereja sementara yang pertama ialah suatu pondok bambu dekat kraton. Pada tahun 1867 gerejanya itu roboh karena gempa yang hebat. Orang kuat ini sekarang di jogja pun dengan tiada takut bahaya menundukan kepahlawanannya dan pengorbanan diri dengan memberikan pertolongan sebanyak mungkin.

Pada akhir tahun itu ia telah dapat menyelesaikan gereja daruratnya yang baru pula, yang lebih kokoh, yaitu pastoran dan gereja Fransiskus Xaverius yang sekarang masih dipergunakan. ketika pada tahun 1870 Mgr. Vrancken meninggalkan Indonesia karena sakit, kehidupan misi sudah jauh lebih berpengharapan. Angin badai yang telah menimpanya sudah reda pula. Bahtera Santo Petrus yang kerusakan itu telah dapat melanjutkan perjalanan di ombak lautan teduh. Selama pemerintahannya telah datang ke Indonesia 31 imam projo dan 15 imam Jesuit. Sejak masa itulah dapat kami berkata tentang "Memancang Patok".

Dikutip dari "Memancang Patok"
dalam Seratus Tahun Misi. Vikariat Provinsi Indonesia.





Ada pendampingan Narkoba di Taman Pintar, Yogyakarta